Saturday, 10 May 2014

Hutan

Hutan engkau hijau
Legasimu seusia alam
Hutan engkau sayu
Nadamu disuara hidupan didalam
Hutan engkau pengubat
Ubatmu penyembuh alam
Hutan engkau indah
Terbinamu hiasan tersenggam

Tapi engkau didengki
Dengkinya sakit pedih
Kini hutan suram
Kini hutan pejam
Kini hutan terdiam
Kini hutan pemusnah alam

Pori pori mu berterbang
Pori pori mu bertahan
Darat menanti pori pori mu
Tapi kuasa dengki membatasi
Hasrat benih itu

Akhir dunia pendengki sengsara
Padah diterima setimpal setara
Angkara mereka tiada berupa.

Saturday, 19 April 2014

Sama terasa (mh370)

Lembah kota terasa dingin
Sungai yang keruh turut menjernih
Sebalik ria ria kota mengilai
Wujud senario susah dilupakan
Susuk sinar pantulan retina
Ungkapan hilang rasa warasnya
Titiknya membentuk sebatang sungai 
Berpaling nya tidak hingga perkenan.
Palitan berusku ekspresi rasa 
Gambaran rasa yang memikul derita
Remuk hati tak kenal senja
Ingatan yang tiada khabar berita.

Friday, 14 March 2014

Untitled

Sedang berentak lentok alunan siulan,
Sedang berentak lentok alunan pujian,
Sedang berentak lentok alunan nyanyian,
Sedang aku diruntuh rasa kesepian.

Belum aku sujud terbaring maya,
Belum aku ruku' sebelum senja,
Belum sampai luput ku
Tapi....
Belum cukup pulangan ku nanti syurga.

Hingga aku  teriak,
Belum aku lupa!!!
Belum aku terjaga!!!
Belum aku sadar...
Kemana tujuan ku meletak,
Kemana tujuan aku bergerak.

Kembali pulang aku menghadap Dia
Terkapai aku hitung!!!
Satu...
Dua...
Tiga!!!
Pahalaku yg ku bawa menghadapNya.

Apa yg menanti aku
Dalam ruang kecil!!!!
Dalam ruang gelap!!!!
Cebis....
Demi cebisss....
Lerai luluh!!!
Berderai darah beku
Berlerai anatomi
Memisah anggota penggerak dosa.

Siangku aku menunggu malam,
Malamku aku menunggu pulang,
Mati.....
Melerai janji.....

Friday, 21 February 2014

Teduhan kasih......

Benarkah kata orang 
dunia ini 'stabil' dengan makhluknya.
Gugur satu tumbuh yang baru,
Luruh yang tua timbul yang muda.
Berputar ianya bagaikan roda.

Bohonglah jika tiada sayang,
Bohonglah jika tiada rindu,
Tempat yang dulu jadi teduhan,
Terbiar rusak dimakan 'anai'.
Kasih yang tiada rasa hambar
Kasih yang tiada rasa berubah.
Lapan orang diteduhnya,
Tiada mengenal arti lelah.

Keping demi keping atap teduhannya gugur,
Batang demi batang pakunya tercungkil,
Tapi....
Masih utuh tempat yang meneduh
Tapi.....
Masih tegak tiang yang mengepit.

Seorang teduhanya terlontar di timur
Terdengarnya panggilan teduhan kasih
Tiada peluang kembali berkasih
Tiada riuh rentak berakhir.
Inginnya kembali ke teduhan kasih
Bersama dengan penghuni yang lain
Bersama merasa nikmat teduhan
7 dekad membina impian.

Friday, 31 January 2014

Sekali lagi tangan tak berdosa menjadi mangsa.
 Kenapa selalu dia yang digoda? Kenapa selalu dia menanggung derita? 
Gembira dunia tanpa rasa neraka, gembira sementara tiada rasa selamanya. 
Kemana hilang cincin kawanan? 
Kata berduka bersama-sama tapi yang tinggal bekas bayangan. 
Dulunya dia seorang sanjungan, tapi kini hanyalah gelendangan. 
Dulunya dia berpengaruh, tapi kini dia dipandang seorang lumpuh. 
Dulunya dia pengaman sengketa, tapi kini dia dianggap malapetaka. 
Belum cukupkah tomahan yang dilontar oleh mereka? 
Tomahan yang hampir memadam cahaya. 
Sakit hatinya tiada yang merasa. Sakit badannya tiada yang bertanya. 
Apa? Bagaimana? Dimana? 

Bagaimana kita seorang insan.... Tiada rasa untuk menghulur tangan... Sedang dia berhempas pulas untuk memperbetul keadaan.

Wednesday, 27 November 2013

Mereka!

Benarkah melayu di bumi Malaysia?
Atau khayalan semata-mata?
Atau hiasan sejarah dunia?.

Timbulnya tidak merasa ada
Tenggelamnya tidak merasa tiada
Bermusuh sengketa darah sesama
Hasutan haiwan bertopeng manusia.

Sedarkah kalian akan mereka?
Panah serakah dianggap pendeta
Janji durjana membela bangsa
Harapan bangsa di sia-sia.

Tanpa sedar sebab mereka
Berperang kita sama saudara
Hanya bertumpah darah sesama.

Bermandi dosa kita angkara mereka
Bertembung senjata kita angkara mereka
Yang digelar pengkhianat bangsa.

Saturday, 16 November 2013

Askar keluarga.

Mak dah macam askar
Tidak tahunya kata lelah
Tidak tahunya kata gundah
Kontang kantingnya terlihat dibiar

Siangnya segar malamnya segar
Pertahan harta paling bermaruah
Katanya jaga yang sakit terbiar
Yang sakit terbiar hidup tak berubah

Tangan kanan berkata jaga
Tangan kiri biar sengsara
Tapi yang dijaga dipalao ibunda
Entah entah senang entah berduka

Ajaklah yang atas kembali bawah
Ajaklah yang bawah junjung ditengah
Ajaklah semua balas sang darah
Membesar zuriat talian darah

Harap tak lupa yang banyak berduka
Jangan membiar sang ibunda
Besarnya kita balaslah jasa
Seorang askar yang banyak berjasa.